Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Seiring berjalannya waktu dengan ditemukannya habitat-habitat baru dari suatu anggrek yang terlah terdata, maka IOSPE dan juga beberapa link lain, juga telah mengadakan perevisian kontennya dan memasukkan daerah-daerah baru tersebut sebagai new record. Misalnya Dendrobium capra yang semula merupakan endemik Jawa seperti yang dikatakan oleh Comber dan bertahan puluhan tahun, IOSPE telah memasukkan daerah baru, Nusa Tenggara pada laporan linknya. Namun terhadap masalah ini, Kew masih bertahan pada status endemik terhadap anggrek spesies ini.

Mengapa bisa berbeda (pandangan/pendapat)?

Baiklah, mari kita coba ulas alasannya ya.

Sering kali kan kita mendengar atau membaca istilah endemik dan/atau pun non-endemik. Masih ada yang bingung apa itu pengertiannya? Mengapa disebut demikian?

Yuk kita spill ya.

Status endemic dan non-endemic ini merupakan status distribusi.

Penyebaran yang sempit (bisa terdiri atas satu atau lebih tempat tetapi masih dalam batas wilayah yang sama), tumbuhan tersebut disebut tumbuhan/anggrek endemic. Misalnya anggrek yang berada terbatas di Jawa Timur bisa disebut East Java endemic. Tetapi bila ditemukan juga di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat (termasuk sekitarnya atau propinsi yang berada dalam wilayah yang sama) bisa disebut sebagai Java endemic orchid.

Sedangkan non-endemic penyebaran lebih luas dengan tempat atau nama wilayah yang berbeda-beda. Misalnya Dendrobium bicaudatum yang tumbuh di Sulawesi dan Maluku.

Hanya saja ada perbedaan penyebutan terma dari non-endemic ini.

Kew lebih suka memakai ‘native to’. Sedangkan banyak link seperti IOSPE, Wikipedia, dan lain-lain memakai kata ‘distribution’.

Sebenarnya kedua istilah ini sama ataukah berbeda?

Menurut pemahaman saya, keduanya berbeda, meski sekilas sama saja.

‘Native to’ seperti yang dipakai Kew hanya memasukkan nama daerah yang memang merupakan habitat asli dari suatu anggrek. Jadi memang tanpa campur tangan manusia. Bila pada kemudian waktu ada laporan baru anggrek tertentu ditemukan pada tempat yang belum pernah disebut sebelumnya, maka ada 2 terma yang dipakai. Apabila setelah diadakan penelitian atau eksplorasi dan analisis ternyata tempat yang baru disebut itu memang benar-benar merupakan habitat asli dari anggrek yang dimaksud, maka akan dimasukkan ke dalam batch native to dengan label ‘New Records’. Tetapi bila tempat baru tersebut ternyata bukan habitat asli dari anggrek yang dimaksud maka Kew memakai term ‘introduction’.

Sedangkan distribusi/distribution tidak memandang tempat tersebut benar-benar merupakan habitat asli dari anggrek tersebut atau tidak. Karena itu IOSPE memasukkan Nusa Tenggara sebagai distribusi dari Dendrobium capra yang sebelumnya merupakan anggrek endemik Jawa.

Nah sudah tahu kan ya bedanya?

Status endemic bisa berubah sewaktu-waktu menjadi non-endemic. Begitu juga sebaliknya. Perubahan ini baru ada setelah diadakan analisis dan studi lapangan apakah suatu anggrek tergolong dalam status punah (extinct), ataukah widespread (tersebar luas) yang disebabkan beberapa faktor di antaranya karena adanya peran evolusi, geography, historical horticulture dan co-evolution yang berperan sebagai seed diversal dari suatu species yang bukan terjadi dalam waktu yang singkat, atau berlangsung ratusan tahun.

Terhadap perubahan status ini, tidak bisa dilakukan sembarangan, karena hanya bisa dilakukan setelah dipublikasikan secara ilmiah dan kemudian terdata di International Plant Names Index dan World Checklist Selected Plant Families. Seperti contoh di atas apakah Dendrobium capra terdapat di kedua link tersebut atau tidak yuk kita coba cek.

 


Contoh Kasus: Dendrobium capra

Awalnya, Comber menyatakan sebagai endemic Jawa. Berlaku hingga berpuluh-puluh tahun, hingga …

IOSPE menambahkan Lesser Sunda Island sebagai daerah distribusinya juga. Revisi ini baru-baru ini saja terjadi ya, mungkin 5 tahun lalu lah, karena sebelum-sebelumnya saya masih membaca hanya Jawa yang disebut di sana.

Dan ada sebuah buku ‘Anggrek TN Matalawa’ yang mempublikasi anggrek ini berada di lingkup TN Matalawa. Penasaran saya pun bertanya pada salah satu penyusun yang ‘kebetulan’ berteman di Fb. Jawabnya populasinya memang sangat sedikit. Kalau dilihat dari fotonya mungkin sekitar 1 atau 2 plant saja. Itu artinya (menurut saya lho) anggrek ini baru ditanam di sana. Kan banyak tuh ya contoh-contoh TN-TN lain yang mendatangkan dan merawat anggrek dari daerah lain. Terbanyak anggrek yang ditanam dan didatangkan adalah Anggrek Larat.

Tetapi gpp lah itu merupakan salah satu publikasi yang menggembirakan juga. Siapa tahu kelak bisa diakui karena hingga saat ini Kew belum memasukkan LSI sebagai native to atau introduction.

Memang harus dilakukan study population di lapangan ya supaya datanya valid sebagai assessment conservation status, apakah LSI merupakan new record atau bukan (introduction). Mungkin kita bisa juga mengecek Conservation Status yang terdaftar di IUCN redlist dari anggrek ini, apakah dinyatakan status konservasinya Extinct, Critical Endangered,atau Vulnerable yang merupakan assessment conservation status terhadap suatu anggrek.

Standar penilaian ini juga berlaku untuk flora lain, maupun fauna karena pada dasarnya semua sama dalam pelaporan/publikasi ilmiah.

 

Contoh Kasus (II): Anggrek Larat

Habitat aslinya ada di Kepulauan Tanimbar, utamanya di pulau Larat. Data yang di-acc oleh Kew.

Nah kita tahu sekarang anggrek ini telah dikultivasi dimana-mana, termasuk di hutan-hutan yang sebelumnya bukan merupakan habitatnya sebagai upaya konservasi ex-situ. Umumnya oleh kebun-kebun wisata, taman-taman nasional, ataupun upaya individu/kelompok. Jadi memang ditempelkan secara senjaga di hutan-hutan yang berada dalam kawasan tersebut.

Berubakah status endemik Anggrek Larat?

Ternyata tidak! Karena anggrek ini sudah terkenal berasal dari Kepulauan Tanimbar.

Nah kalau misalnya dijumpai di suatu pulau yang masih berdekatan tetapi berada di luar Kepulauan Tanimbar apakah bisa merubah statusnya?

Entahlah! Belum ada informasi yang mengatakan demikian.

 

Thank to Yuda Rehata atas informasi pentingnya.

Komentar