Duh Dimana Anggreknya? Hunting Anggrek di Hutan Pinus (1)
اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bagi
pecinta anggrek, saat memasuki hutan tuh, apa sih yang paling membuat interest
jikalau bukan anggrek? Iya ga sih? Ya, iyalah, masa enggak? Wkwk
Nah, itu juga yang terjadi dengan admin, tatkala mengikuti kegiatan kemping di salah satu bumi perkemahan area Tulungagung.
Singkat cerita, saat mobil kami sudah memasuki hutan homogen Pinus, kepala ini langsung mendongak, mata nyalang ke sana ke mari. Meski sudah sekian lama dan perjalanan juga kiah jauh ke hutan, ternyata kecewa deh kita, karena tak satu pun anggrek yang terlihat. Padahal kondisi agroklimatnya cocok lho. Yah, meski hutan Pinus itu selalu diremajakan (setiap 20 tahun kalau g salah) , tetapi pohonnya udah pada besar-besar. Kayaknya sih sudah lebih dari sepuluh tahun. Suatu rentang masa yang cocok untuk anggrek tumbuh dan kembang. Tetapi ternyata zonk, tanpa anggrek satupun, hiks.
Memang banyak sih tumbuhan epifet yang pada nempel di pepohonan pinus. Paku-pakis paling dominan. Tergampang terdeteksi adalah Paku Sarang Burung. Bertengger dengan nyaman pada banyak pohon. Ada yang masih rumpun kecil, tetapi banyak pula yang sudah merumpun gede. Kayaknya memang dominan nih pakis, karena hampir sepanjang perjalanan banyak dijumpai. Begitu pun di sekitar area kemping.
Kemudian
disusul Dischidia sp. dengan populasi
terbanyak. Entah apa spesiesnya, saya masih males nyari infonya hehe. Ada dua
jenis dengan bentuk daun berbeda. Tampak juga Hoya lacunosa disana-sini, baik pada pohon yang sudah tinggi maupun
yang masih rendah/kecil.
Terakhir dengan populasi kecil ada Epipremnum sp. Ada 2 atau 3 varian, besar-besar semua ukurannya. Itu lho yang daunnya sobek-sobek atau bolong-bolong, tetapi bukan Ron Dho Bolong.
Admin tetap memupuk ekspektasi semoga ntar nyampai di lokasi perkemahan akan kita temukan anggrek.
Qodarullah, sampai di sana juga nihil nih, hiks. Hanya ada 2 plant saja. Itupun kayaknya ditempel di sana dengan sengaja. Tampak tali pengikat masih belum terurai utuh atau jatuh.
Saat memasuki area tenda yang telah didirikan, ada anggrek Vanda. Limbata sepertinya. Hanya satu plant. Sedang pada pohon sisi tenda kami, diikat anggrek Eria sp. Kalau g salah terka sih ya. Daun dan rumpunnya mirip Coelogyne sp. tetapi lebih tipis-lemas dan bulbnya juga tidak kelihatan (kecil). Karena itu admin cenderung mengiranya anggrek Eria.
Di sekitar lokasi ini, jenis tumbuhan epifitnya sama saja dengan sebelumnya yang telah diceritakan di atas.
Hmmm semoga besuk saat menjelajah admin bisa menemukan anggrek, syukur-syukur kalau ada yang bisa dibawa pulang. BERHARAP!!!!
Berpikir keras mengapa tak ada anggreknya? Apa yang terjadi dengan mereka? Hutan pinus memang setiap puluhan tahun akan diremajakan kembali, tetapi itu sudah cukup waktu buat anggrek untuk juga menggeliat. Tetapi tidak ada satu pun anggrek di sana, setidaknya dalam jangkauan mata saya.
Komentar
Posting Komentar