Pengalaman Aklimatisasi Anggrek Botolan Phalaenopsis cornu-cervi

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Seorang teman mengirim hadiah botolan Phalaenopsis cornu-cervi. Tentu saja admin gembira, alhamdulillah, sekaligus juga harap-harap cemas karena aklimatisasi anggrek bukanlah hal yang mudah dilakukan untuk pemula.

Sebenarnya udah lama sih pingin belajar aklimatisasi, tetapi karena risiko kematian yang tinggi membuat admin tak ngoyo. Apalagi keluhan kegagalan banyak diunggah teman-teman di grup-grup anggrek.


  

Berdasar tips-tips yang pernah dibaca, admin berusaha merealisasikannya. Tentu saja tidak bisa 100% persis karena antar sumber juga berbeda-beda cara aklimatisasinya.

Akhirnya seperti inilah langkah-langkah admin untuk mengaklimatisasi anggrek Phalaenopsis cornu-cervi:

  • Anggrek dibiarkan pada botolnya setelah kedatangan. Botol diletakkan di teras yang teduh dan terhindar dari hujan serta panas, namun areanya masih terang. Rencananya satu bulan kemudian anggrek baru diaklimatisasi.
  • Sambil menunggu hari H-nya, BPG membaca berkali-kali berbagai informasi tentang aklimatisasi, termasuk membaca dan memahami cara-cara aklimatisasi pada lafletnya.
  • Karena botol datangnya pada musim hujan, kekhawatiran terhadap situasi cuaca yang tidak menentu tentu ada. Bagaimana nasib bibitnya nanti? Apa bisa survive?
  • Agar bibit mampu adaptasi terhadap cuaca yang berubah-ubah, akhirnya botol diletakkan di tempat yang terkena tampiasan hujan dan sinar yang menerobos. Tempat itu adalah lorong rumah.
  • Botol tergeletak di sana hingga satu minggu lebih. Setiap hari dilihat kondisinya, masih baik atau enggak. Hingga suatu hari ternampak ada beberapa akar anggrek yang menguning. Busuk. Rupanya ada air yang masuk ke celah-celah plastik pengamannya sehingga kondisi botolnya menjadi lembab. Selain itu dari celah-celah tersebut juga masuk jamur. Kejadian yang di luar perkiraan. Rencana pun menjadi berantakan. Bibit harus segera diaklimatisasi agar pembusukan tidak semakin parah.
  • Media tanam disiapkan, yakni pakis papan yang memang tidak menyerap air secara berlebih. Jadi bibit anggrek tidak akan membusuk. Namun sayangnya, anggrek yang masih bibit membutuhkan kelembaban yang tinggi, maka agar kelembaban terjaga, di salah satu sisi papan pakis tersebut diikatkan sabut kelapa hampir memenuhi areanya.
  • Anggrek pun dikeluarkan dari botol memakai kawat berujung lengkung. Di sinilah masalah juga timbul. Rupanya 8 bibit anggrek dalam botol tersebut sudah berukuran cukup besar. Masing-masing bibit memiliki akar yang memanjang hingga lebih dari 10 cm, saling terkait, bertumpukan, dan menempel. Dilema, bagaimana caranya agar anggrek tidak rusak saat dikeluarkan?
  • Masih di dalam botol, akar-akar dicoba diurai. Namun karena akar menempelnya sangat erat, akhirnya perlakuan ini. Pun dihentikan Kalau dipaksakan khawatir akar tambah rusak yang bisa berujung kematian pada bibit. Dicoba akar diurai di luar botol.
  • Anggrek pun dikeluarkan apa adanya. Diusahakan batang atau akar tidak patah. Namun tentu saja sulit. Beberapa akar ada yang patah.
  • Setelah bibit keluar, penguraian akar juga masih tetap saja sulit dilakukan. Karena itu mau tidak mau tindakan ekstrim harus dilakukan, yakni dengan memotong akarnya tepat di tengah-tengah antar bibit. Kemudian akar-akar tersebut diurai. Potongan akar yang tidak menempel pada bibit, dibuang. Kemudian bibit dicuci hingga bersih.
  • Diangin-anginkan sebentar di atas kertas/koran.
  • Beberapa jam kemudian bibit diikatkan pada papan pakis menggunakan benang tipis secara hati-hati atau tidak terlalu erat. Posisi bibit menggantung ke bawah atau dijungkalkan. Dengan posisi ini air yang mengenai daun dapat segera menetes dan tidak sempat membuat daun busuk. Dari 8 bibit, satu bibit diberi perlakuan terpisah, yakni ditempelkan pada ranting-ranting ikat – cara membuat pot ranting sederhana ada pada artikel yang lalu – yang ditambahkan rambut-rambut pakis sebagai penjaga kelembaban.
  • Agar tidak jatuh, bibit diikat hingga beberapa kali putaran. Ingat jangan sampai diikat erat.
  • Bibit yang berada di papan pakis diletakkan pada lorong antar rumah yang memang lembab. Di sana bibit-bibit masih terkena percikan hujan dan sinar yang menerobos dari sela-sela tembok. Derajat panas sinar juga sudah berkurang akibat diserap oleh tembok dan atap. Sedangkan bibit pada ranting ikat, diletakkan pada pagar besi yang mana area tersebut terkena hujan dan sinar langsung yang tertahan oleh benda-benda di atasnya, antara lain atap, tembok, dan tanaman anggrek lainnya.
  •  Setelah beberapa minggu (belum ada satu bulan) bibit yang ada di ranting ikat mengeluarkan akarnya. Karena pada area ini pertumbuhannya lebih bagus, akhirnya bibit-bibit yang ada di papan pakis pun dipindah ke area yang sama. Alhamdulillah, di tempat barunya, pertumbuhannya semakin pesat dibanding tempat sebelumnya.
  •  Hingga kemudian dari 8 bibit tersebut, yang 2 tinggal akarnya doang, dan yang 6 masih survive hingga kini. Tumbuh daun dan akar baru, alhamdulillah.
  • Oh ya terlupa:

o   Bibit tidak disuci hamakan. Hanya dibersihkan dengan air biasa saja. - Jangan ditiru!

o   Mulut botol lebar (botol selai) jadi proses pengeluaran bibit memang relatif mudah.

  • Problem

Masalah tentu ada. Biasanya daunnya ada yang membusuk. Admin hanya menggunting bagian yang busuk saja. Jikalau daun, akar, atau batangnya mengering, biarkan saja selama masih ada bagian-bagian yang sehat. Tetap jaga kelembabannya. Permukaan batang yang mengering akan menjadi pelindung bagian yang masih sehat dari sengatan panas, hujan, atau deraan angin.  

  • Sekian proses aklimatisasi ala admin.
  • Hasilnya hanya 1 bibit yang mampu bertahan hingga berbulan-bulan sebelum kemudian mati, hiks.
  • The next kalau Allah mengizinkan, admin akan lebih berhati-hati dan berusaha lagi agar proses aklimatisasi lebih sukses. Admin berharap teman-teman bisa belajar dari pengalaman ini dan mencari tritmen yang lebih baik. Semoga teman-teman bisa berhasil dan sukses yaaa.


Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya