Plus Minus Media Pakis

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

FYP: sebagai penggemar anggrek, kita tidak melulu fokus pada kelestarian anggrek saja, tetapi juga flora lain, dan kalau perlu juga fauna. Seperti kasus pohon pakis yang kian lama kian langka. Bahkan pada wilayah tertentu, dilarang untuk ditebang!

======

Setiap beli anggrek atau sekedar lihat-lihat kebun orang, baik off maupun online pasti banyak anggrek yang ditempel/diikat pada media papan pakis. Karena banyak yang memakai, otomatis kebutuhan akan media ini kian lama kian meningkat. Padahal bahan yang diperoleh berasal dari hutan, belum dibudidayakan. Alhasil, pada beberapa daerah sudah langka dijumpai.

Dari salah satu laporan penelitian, pada satu daerah saja setiap kolektor/hunter menebang minimal 50 pohon/bulan. Dalam satu kelompok/desa terdapat puluhan hunter. Yah katakanlah 10 orang, berarti 500 pohon/bulan, per tahun ada 6000 pohon. Sedangkan populasi per 100m2 ada sekitar 26-36 pakis dewasa. Pohon pakis yang dipilih berusia minimal 10 tahun. Bisa dibayangkan hanya berapa tahun saja pohon pakis akan lenyap pada habitatnya dan berapa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk ‘meremajakannya’.

Karena itu pemakaian alternatif media yang gampang didapat, cocok untuk anggrek, dan tidak merusak alam lebih dianjurkan.

Bagaimana kalau sudah terlanjur? Ya gpp, the next time bisa mengurangi atau bahkan stop total pemakaian media akar pakis.

Sebenarnya pakis apa sih yang digunakan sebagai media anggrek itu?

Yuks kita kenalan dulu.

Pakis itu dari genus Cyathea. Merupakan kelompok pakis ‘pohon’ berbatang tegak dengan bagian dasar diselimuti akar adventif berupa serat-serat kaku berwarna hitam (Ong, 2003). Akar-akar tersebut menjadi penopang tumbuhan pakis yang berfungsi seperti batang. Akar-akar tersebut kian lama kian membentuk massa yang bervolume besar.

Akar adventif inilah yang dimanfaatkan sebagai media tanam anggrek dan tanaman epifit. Indonesia adalah negara pengekspor akar pakis spesies Cyathea contaminans Wall. ex Hook. terbesar pada rentang tahun 1994 – 2003. Spesies ini terdistribusi di seluruh kawasan Indonesia, mulai dari ketinggian 200 m dpl hingga 1600 m dpl. Tumbuh soliter atau berkelompok, terutama di tempat-tempat terbuka seperti tepian hutan dan lereng-lereng. Tinggi tumbuhan dapat mencapai lebih dari 10 m.

 


 

Kelebihan Media Pakis

Tidak gampang lapuk

Aerasi dan drainase bagus

Tidak terlalu menampung banyak air, tetapi masih mampu mengikat air dalam waktu lama, sehingga kelembaban dapat terjaga

Tekstur halus dan berongga sehingga akar anggrek dapat menembus dan melekat erat, utamanya akar-akar anggrek berukuran kecil

Bisa dibentuk/dipotong-potong berbagai ukuran

Penggunaan menyesuaikan, maksudnya bisa berupa papan ataupun dicacah sebagai media tanam dalam pot

 

Kelemahan

Sangat disenangi semut atau insekt lain untuk bersarang.

Tidak dapat menyerap pupuk dalam jangka waktu lama

 

Tritmen Sebelum Pemakaian

Rendam pada larutan pupuk NPK

Celup/rendam sebentar dalam larutan fungisida dan insektisida

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya