Anggrek dan Pohon Inang (Kumpulan Laporan Penelitian dan/atau Eksplorasi Anggrek di Jawa) - 1
اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Seberapa kuatkah relasi antara anggrek dengan pohon inangnya?
Ada
dua pendapat: berpengaruh atau berkorelasi, dan tidak berpengaruh. Apapun itu,
hubungan antara anggrek dengan pohon inangnya dikenal dengan istilah phorophyte.
Apa itu phorophyte?
Berasal dari kata phoro, yang artinya bearer or carrier (pemikul atau pembawa) dan phyte/plant, tumbuhan. Definisi sederhana pepohonan sebagai tempat tumbuh tumbuhan (epifit).
Tetapi bagaimanapun secara alamiah, biji-biji atau benih anggrek akan ‘memilih’ karakteristik kulit pohon yang cocok baginya untuk berkecambah dengan kondisi sekitar yang kondufif.
Pohon yang memiliki getah atau eksudat yang bersifat racun atau resin, yang mana sebagiannya akan keluar melalui stomata pada kulit kayu muda atau menembus jaringan gabus pada kulit kayu tua secara alamiah akan mematikan biji-biji anggrek sebelum sempat berkecambah. Resin memang bersifat alelopati/alelokemi terhadap kebanyakan tumbuhan, termasuk anggrek epifit, sehingga pohon yang memiliki getah cenderung ‘miskin’ tumbuhan epifit yang menempel.
Secara umum (biji dan/atau bibit) anggrek memilih inang dengan kulit pohon yang tua, stabil (tidak mudah mengelupas), keras, kasar dan tidak bergetah. Kulit pohon dengan standar seperti itu akan tersedia nutrisi, air, kelembaban, dan juga area yang cocok untuk hidupnya fungsi mikoriza yang membantu biji-biji anggrek berkecambah.
Kondisi kulit pohon yang stabil tersebut menunjang kehidupan anggrek tanpa gangguan. Juga sebagai pendukung perlekatan akar supaya kuat sehingga mampu menopang dengan kokoh anggrek pada pohon inang.
Walaupun sebagian peneliti berpendapat tidak ada hubungan antara anggrek dengan pohon inang tertentu, pada banyak kasus relokasi atau penanaman kembali jenis-jenis anggrek langka pada habitat aslinya sering mengalami kegagalan. Walaupun banyak faktor yang menjadi penyebabnya, namun bisa jadi salah satu faktor kegagalan adalah ketidaksesuaian karakter anggrek dengan pohon inang yang dipilih (para konservator).
Walaupun mungkin tidak ada korelasi antara pohon inang dengan agroklimat, tetapi diakui atau tidak pepohonan juga mempengaruhi prosentase standar faktor agroklimat. Misalnya kelembaban, suhu, maupun , utamanya kebutuhan sinar matahari. Anggrek yang membutuhkan sinar dengan prosentase tinggi akan memilih pohon yang tidak begitu rapat tajuknya.
Umumnya anggrek memerlukan sinar matahari sekitar 30-60%, disamping sebagian kecil memerlukan atau menyukai hampir 100% dengan kelembaban minimal 60%, dengan curah hujan berkisar antara 2500-3000mm/th. Karena itulah mayoritas anggrek berada di daerah tropis yang memang banyak pepohonan yang beragam (heterogen).
Allen (1959) menyatakan bahwa anggrek-anggrek epifit masih dapat tumbuh subur ketika dipindahkan pada tumbuhan inang lainnya. Johansson (1975) juga tidak menemukan indikasi hubungan khusus antara anggrek dan inangnya meskipun diperoleh data bahwa Parinari excels merupakan inang anggrek yang dominan di kawasan Nimba (Afrika).
Pendapat ini dirasa bener juga ya kalau dialihkan ke kebun kita yang mana mungkin pohon yang kita miliki umumnya pohon buah yang tentunya tidak sama dengan pohon inang alamiahnya.
![]() |
| Anggrek di kebun kita 'mau' tumbuh dan melekat pada jenis pohon apa saja |

Komentar
Posting Komentar