Dendrobium Indonesia Raya ‘Red’ & Sedikit Informasi

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Umumnya warna lidah merah seperti ini semua dikelompokkan (baca: disebut) ke dalam Dendrobium Indonesia Raya ‘Red’. Anggrek hibrid karya sang maestro ini tidak wangi, sais bunga 5 – 7 cm dengan sepal petal bergelombang/berombak (mengacu pada sebutan rambut yang tidak begitu keriting) berdasar putih dengan stripe samar-samar hingga splash atau corak dengan warna ungu kemerahan.

Labellum besar, warisan dari moyang spesiesnya, Dendrobium nindii.

Meskipun petalnya ‘hanya’ bergelombang, tetapi sepal lateralnya berombak dengan kuat/kokoh/kaku. Ada yang mengatakan vibes Dendrobium Indonesia Raya vibesnya Dendrobium tipe antelope atau keriting. Iya juga sih ya, tetapi menurut admin memang tidak bisa dikelompokkan ke dalam kelompok melintir, atau pasnya semi melintir.

Untuk lebih mudahnya, mari kita amati prosentase gen dari masing-masing moyang (Species Ancestors):

  • Dendrobium nindii – 31.25%
  • Dendrobium bigibbum var. superbum – 16.98%
  • Dendrobium violaceoflavens – 12.5%
  • Dendrobium discolor – 7.82%
  • Dendrobium schulleri – 6.25%
  • Dendrobium bigibbum var. schroederianum – 6.25%
  • Dendrobium lasianthera – 6.25%
  • Dendrobium lineale – 4.69%
  • Dendrobium tokai – 3.32%
  • Dendrobium stratiotes – 3.13%
  • Dendrobium bigibbum – 1.57%

Yang menakjubkan tinggi batang bisa mencapai 1 – 1,5 m, walau saat masih cukup pendek (sekitar 20 – 30 cm) sudah siap berbunga. 

Kabarnya anggrek ini mudah tumbuh atau bandel dan cocok untuk pemula. Admin belum bisa bicara lebih jauh sih ya karena baru saja memilikinya. So, artikel ini berasal dari informasi-informasi yang ada di internet.

Catatan: 

  • Media batang kayu atau bebas saja, yang penting cocok dengan anggreknya dan kebun kita
  • Kebutuhan sinar hingga 85%
  • Aerasi lancar, berangin lebih bagus
  • Penyiraman dilakukan apabila media kering – umumnya pecinta anggrek pake tritmen ini, tetapi di kebun admin penyiraman memakai slang dilakukan 2 hari sekali, entah media sudah kering atau belum, kecuali untuk anggrek tanah memang disiram apabila media tanah sudah kering (biasanya 4 – 7 hari disiram sekali).
  • Pemupukan sesuai aturan pakai dari merk yang digunakan.
  • Admin juga melakukan spray vitamin B1, penambahan nutrisi/vitamin di luar pupuk utama (pabrikan).

 

Form/Varian

Anggrek silangan Dendrobium Kim Bora × Dendrobium Wee Lian karya dari mendiang Wirakusuma Silamurti yang diregistrasi di RHS (Royal Horticultural Society) oleh Edi Triono tanggal 12 Januari 2007.

Ada beberapa varian atau form yang beredar di pasaran, entah berasal dari breeder aslinya atau (bisa jadi) hasil remade oleh breeder lain:

  • Dendrobium Indonesia Raya ‘Ina’
  • Dendrobium Indonesia Raya ‘Edina’
  • Dendrobium Indonesia Raya ‘#3’
  • Dendrobium Indonesia Raya ‘Ayah’

Umumnya di pasaran hanya dikenal dua form saja, Dendrobium Indonesia Raya ‘Red’ dan Dendrobium Indonesia Raya ‘Blue’, merujuk pada warna lipnya. Admin tidak tahu apakah dari kedua form ini sebenarnya juga merupakan varian/form sebelumnya. Tetapi kalau form ‘Ayah’ labellum berwarna biru.

 

Catatan untuk Dendrobium Indonesia Raya ‘Ayah’

Variasi atau form dari hibrid ini sepertinya bukan karya asli p Wira. Begitulah pemahaman kami saat membaca artikel pada satu link yang merupakan link asli dari sang breeder. Jadi breeder ini sepertinya juga melakukan penyilangan dari induk yang sama dengan waktu yang hampir berbarengan atau tidak, tidak ditulis secara pasti. Dan tidak diinformasikan juga apakah seed dan/atau pollen parents yang mana. Apakah (Dendrobium Kimbora Bora (RHS, 2001) sebagai seed atau pollen, pastinya hasil silangannya namanya tetap sama. Form/varian dari Dendrobium Wee Lian Bora (RHS, 1998)) apakah juga sama seperti yang dipakai p Wira, tidak diketahui. Hanya saja, sepertinya breeder ini ketinggalan kereta saat mendaftarkannya. Kalah start. Karena hasil karyanya berbeda tampak jelas meski morfologinya mirip, berhak menyandang nama varian yang didaftarkan secara resmi pada Kementerian Pertanian.

Karyanya ini saat diikutkan dalam suatu kontes, menang! Plant pada perlombaan itu merupakan satu-satunya varian/form ini yang diberi tambahan nama ‘Ayah’. Lebih lanjut dikabarkan konon Departeman Pertanian memperbanyak dengan cara meriklon. Tetapi entah apa sungguhan direalisasikan ataukah tidak, tidak/belum ada informasi lagi yang dapat admin temukan.

Catatan untuk Dendrobium Indonesia Raya ‘Edina’

Konon dianggap varian tercakep dari Dendrobium Indonesia Raya. Entah beneran atau g ya sesuai selera kita juga aja ya. G usah baperlah kalau punya kita bukan form Edina, toh sama-sama cantik. Biasanya memang kalau dikatakan tercakep itu juga salah satu trik para pedagang untuk mengatrol harga jualnya supaya lebih mahal. Walaupun kita punya form Dendrobium Indonesia Raya yang biasa-biasa aja (katakanlah begitu), tetapi kalau populasinya langka ya tentu harganya (menjadi) mahal bukan?

Katanya form ‘Edina’ ini mempunyai tangkai bunga dan kuntum bunga yang lebih banyak dibanding form lainnya. Pohonnya juga tampak kokoh dibandingkan dengan varian lainnya. Sekali lagi penilaian yang relatif ya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya