A - Z Section Flickingeria 5: Genus Flickingeria (Part 1)
اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Awal Mula
Dideskripsi oleh A.D. Hawkes 1961. Kemudian W.G. Bergh dan R. M. Garay, 1983 mengadakan perubahan dan menempatkannya pada subtribe Sarcanthinae, yang kemudian ditempatkan pada tribe Vandeae subtribe Aeridinae. Jadi saat itu dianggap sebagai anggrek bertipe monopodial. Sedangkan beberapa spesies dari Flickingeria diklasifikasikan lebih lanjut menjadi subgenera atau bagian berdasarkan ciri morfologinya.
Genus Flickingeria terus mengalami perubahan yang mana saat ini (atau mungkin telah lama sekali) dimasukkan ke dalam kelompok anggrek dengan tipe tumbuh simpodial.
Taksonomi
|
Family |
: |
Orchidaceae |
|
Subfamily |
: |
Epidendroideae |
|
Tribe |
: |
Dendrobieae / Podochilaeae |
|
SubTribe |
: |
Dendrobiinae |
|
Alliance |
: |
- |
|
Genus |
: |
Flickingeria |
|
Author |
: |
A.D. Hawkes, 1961 |
|
Section |
: |
sect. Bilobulatae Seidenf., Dansk Bot. Ark. 34(1): 17 (1980). sect. Parietiformae W.Suarez & Cootes, Philipp. Orchid Rev. 15(2): 17 (2007). sect. Plicatiles Seidenf., Dansk Bot. Ark. 34(1): 16 (1980) |
|
|
|
Menurut informasi dari Jim Cootes dan Ronny Boos, selain ketiga seksi di atas juga ada seksi Flickingeria. Kemudian setelah diklasifikasikan kembali ke dalam genus Dendrobium, semua seksi di atas menjadi satu seksion, yaki Flickingeria |
|
Etymology |
: |
Derivat Flickingeria berasal dari nama Edward A. Flickinger, seorang ahli anggrek dan editor jurnal anggrek |
Morfologi/Deskripsi Botanik
Tumbuhan
anggrek perennial dan evergreen, epifit atau litofit atau pun terestrial (tumbuh di
tanah).
Rimpang/rhizomes sangat pendek yang ditopang oleh akar bercabang yang muncul dari buku basal.
Batang berkembang dengan baik, tumbuh di udara, biasanya berkelompok, tidak berakar, terdiri dari banyak buku, setiap cabang berakhir dengan pseudobulb. Terkadang tampak seperti bercabang-cabang.
Pseudobulb mempunyai jarak yang jauh, relatif pendek, berpunuk tunggal, dan semakin mengecil. Bentuknya silindris atau seperti gada. Warna ada yang hijau, kekuningan, kemerahan, dan lainnya.
Daun soliter/sehelai, tipis agak lemas hingga relatif kaku dengan ujung bertakik. Ukuran bervariasi.tunggal, dari puncak pseudobulb, sesil, semakin kecil, bertekstur tipis, lebih panjang dari lebar, rata, dengan puncak berlekuk tidak sama (bertakik).
Bunga muncul secara individual dari meristem abadi di puncak pseudobulb di belakang atau di depan daun. Umumnya berwarna dasar putih, krem/kekuningan. Ada yang bercorak ada yang polos/solid. Labellum melekat kuat langsung pada puncak kaki kolom. Labellum lamina jelas memiliki tiga lobus; lobus lateral relatif kecil; lobus tengah dengan sekelompok lobus seperti rambut flexuose yang menyebar di apikal. Kalus terdiri dari punggung atau lunas rendah, seringkali berbelit-belit. Banyak spesies yang mempunyai bentuk lidah yang sangat unik dengan rumbai-rumbai (staceus).
Distribusi/Sebaran/Native
- 42 Jawa - JAW
- 42 Lesser Sunda Islands (Flores, Timor) - LSI
- 36 China - CHC
- 41 Thailand
- 41 Vietnam - VIE
- 42 Malaysia – MLY
- 42 Sumatra - SUM
- 42 Singapore
- India
- Philippines
- Thailand.
- New Caledonia
- New Guinea
- Himalaya
- Polynesia
- Northern Australia
Habitat/Ekologi
Lingkungan hidupnya bervariasi, mulai dari hutan hujan tropis (baik dataran rendah maupun tinggi), utamanya (melekat) pada pepohonan, sabana, lereng bukit berbatu atau bebatuan (meski tidak umum) hingga semak belukar yang gersang. Banyak spesies yang mampu mengembangkan struktur akar khusus, seperti velamen radicum, yang menyerap kelembapan dan nutrisi dari udara dan air hujan sehingga dapat hidup baik pada berbagai variasi habitat seperti yang telah tersebut. Tetapi mayoritas memang berada atau berhabitat di daerah pegunungan atau dataran tinggi dengan elevation 1000 hingga 2100 meter. Bahkan ada yang sudah mempastikan merupakan anggrek dataran tinggi yang sulit untuk hidup di luar itu. Andai hidup pun akan sulit untuk berbunga.
Biology
Pollination: Umumnya mekar 8 – 10 jam (jarang yang melebihi) dengan serangga polinasi/serangga vektor yang tidak diketahui jenisnya. Mempunyai 4 pollinia.
Reproduksi/Propagasi/Perkembangbiakan: seperti tumbuhan tingkat tinggi lainnya, anggrek Flickingeria (juga) berkembang dengan dua cara, generatif dan vegetatif. Secara generatif dengan biji-biji yang berasal dari kapsul buah/seedpot yang telah matang berumur 4 – 6 bulan sejak pembuahan terjadi. Vegetatif melalui tunas bulb (anakan) dan/atau pemotongan batang atau bervariasi sesuai dengan kebiasaan perbanyakannya.
Flowering: terjadi tiba-tiba sepanjang tahun
Hybrids: Natural hybrids tidak diketahui karena memang kurangnya studi akan genus ini. Sedangkan silangan-silangan buatan juga tidak diketahui (tidak ada).
Pests & Diseases: tidak banyak yang diketahui tentang hama dan penyakit yang menyerang anggrek-anggrek Flickingeria . Tetapi seperti anggrek lainnya bila telah dialihkan ke kebun, umumnya terserang busuk. Walaupun tidak diketahui, perawatan dengan memberikan obat-obatan secara rutin untuk bakteri, jamur/fungi, virus, serangga, mites, dan lain-lain bisa mencegah masalah-masalah ini dan membantu anggrek tumbuh dan kembang dengan baik.
Characteristics
Light: Kebanyakan anggrek Flickingeria lebih menyukai cahaya terang dan tidak langsung.
Humidity: Anggrek Flickingeria lebih menyukai tingkat kelembapan tinggi. Kita dapat menanamnya pada lingkungan yang lembab atau dengan menyemprotkannya air secara teratur.
Temperature: umumnya lebih menyukai kondisi hangat dan lembab dengan suhu berkisar antara 15-29°C (60-85°F).
Economic and Ecological Importance
Di Indonesia, sepertinya anggrek-anggrek Flickingeria tidak penting dan tidak begitu laku meskipun indah. Berbeda dengan di luar negeri yang tidak memiliki kekayaan anggrek secara alami, anggrek Flickingeria memiliki harga yang wajar. Apalagi anggrek-anggrek ini telah lama dikagumi oleh para ahli hortikultura, kolektor, dan penggemar karena bunganya yang mencolok dan kebiasaan pertumbuhannya yang rumit. Banyak spesies anggrek Flickingeria yang merupakan tanaman hias populer, baik di daerah asalnya maupun di belahan dunia lain tempat mereka diperkenalkan.
Selain nilai estetikanya, beberapa spesies anggrek Flickingeria juga mempunyai kepentingan ekonomi. Misalnya saja rimpang Flickingeria nodosa yang digunakan dalam pengobatan tradisional di Asia Tenggara untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk demam, peradangan, dan gangguan pencernaan.
Komentar
Posting Komentar