Lagi tentang Dendrobium aphyllum (Roxb.) C.E.C.Fisch. - Part 1 (Informasi Umum)

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bunganya cantik sekaligus unik, utamanya pada labellumnya mirip corong. Warnanya pink kalem yang menghiasi tepian sepal-petal yang kian ke tengah kian berwarna putih yang masih terdapat guratan-guratan pink.

Nama aphyllum sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno (Ancient Greek), áphullos, yang kemudian diLatinkan menjadi aphyllus yang mendapatkan tambahan – um – untuk menyebut tidak ada gender. Jadi bunganya bisa disebu cantik atau boleh juga ganteng wkwk.

Nama Grex/ephythet aphyllum memang lebih luas digunakan dibanding pierardii (Sir William Hooker,1822) dan cucullatum (Robert Brown, 1821). Kecondongan memakai nama aphyllum dipertegas oleh argumen Gunnar Seidenfaden, 1985, seorang ahli botani Denmark bahwa ini adalah spesies yang sama dengan Dendrobium pierardii.

Termasuk anggrek lejen, anggrek sejuta umat dan sebutan lainnya di Indonesia. Artinya menjadi anggrek yang wajib dikoleksi. Harganya juga termasuk murah (meriah).

 

Deskripsi Umum

Dendrobium  aphyllum merupakan anggrek epifit simpodial dengan bulb panjang tetapi ramping (tidak ada bagian yang menggembung). Istilah barat menyebutnya stem. Referensi menyebut panjangnya kurang dari 50 cm. Tetapi faktanya bisa mencapai 2 m, bahkan bisa lebih.

Untuk berbunga memang harus menggugurkan daunnya terlebih dahulu, disebut tipe deciduous.

Diameter bunga terbagi menjadi 2 kelompok:

  • 4 – 5 cm dengan lama mekar ± 7 hari. Uniknya pada musim/waktu tertentu sais bunganya bisa mencapai 7 cm, dari plant yang sama.
  • 7 cm. Kuntum memang tidak bisa kemruyuk (tetapi mungkin ada juga yang bisa kemruyuk meski berukuran besar)

Wanginya tidak cukup kuat, tetapi juga tidak terlalu lemah. Kita tidak perlu mendekatkan hidung untuk menciumnya.

Pada dataran tinggi, hampir setiap ruas bukunya menghasilkan kuntum-kuntum bunga yang bergerombol/cluster. Setiap cincin ruas hanya berbunga paling banyak 3 kuntum. Tangkai kuntum sangat pendek. 


Daun

Panjang kurang dari 10 cm. Setiap cincin ruas terdapat satu daun yang saling berlawanan (opposite) dengan daun sebelum dan sesudahnya. Ujung daun rapat dan meruncing,

Buah

Belum pernah menjumpainya berbuah secara alami. Karena penasaran seperti apa sih bentuk seedpot, admin lakukan penyerbukan buatan.  Ternyata seperti ini bentuknya.


Keiki

Tumbuh/muncul hampir pada setiap cincin ruas. Jarang bertunas, kecuali saat bulb mengering dan akan mati. Tetapi biasanya walau dengan kondisi seperti itu, bulb lebih menumbuhkan keiki dibanding tunas (anakan).

Saat masih fase keiki atau tunas anakan, daun-daunnya berwarna ungu. Bulbnya juga berwarna ungu bercorak. Sangat cantik.

Tritmen

Super mudah dirawat dan beradaptasi, hampir-hampir tidak ada perawatan yang berarti. Disiram begitu saja atau bahkan dibiarkan apa adanya, mereka bisa tumbuh bagus dan berbunga. Bila sering kali lupa menyiram, tempelkan saja pada batang/bulb paku Simbar Menjangan atau yang sejenisnya, mereka akan tetap tumbuh baik.

 

References

Plants of the World Online

Kew Species Profiles

BlueNanta/OrchidsRoot

IPNI - The International Plant Names Index

toptropicals.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya