Paphiopedilum javanicum (Reinw. ex Lindl.) Pfitzer (1): Simpang Siur Informasi & Status Konservasi
اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dari beberapa link yang penulis unduh, memberikan informasi yang simpang siur tentang anggrek ini. Apa saja itu?Tentang nama taksonomi
- Paphiopedilum javanicum (Reinw. ex Blume) Pfitzer, ataukah
- Paphiopedilum javanicum (Reinw. ex Lindl.) Pfitzer 1888 – difollow oleh Kew
Tentang deskriptor
- Ada yang bilang genus Paphiopedilum dideskripsi oleh Lindley dan diterbitkan pada Edward's Botanical Register, 23: t. 1991 (1837).
- Sedangkan Kew mengatakan genus Paphiopedilum dideskripsi oleh Pfitzer yang dipublikasikan pertama kali pada Morph. Stud. Orchideenbl.: 11 (1886), nom. cons.
Tentang sebaran/distribusi
- Ada yang mengatakan anggrek terestrial endemik Jawa (atau Indonesia).
- Kew menyebut sebarannya meliputi W. Malesia to Lesser Sunda Islands: Borneo, Jawa, Lesser Sunda Is., Sumatera. Borneo di sini adalah Malaysia (sumber dari link lain).
- Ada juga yang menyatakan distribusi meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Flores, dan Kalimantan. Dari peta geografi yang lama Bali dan Flores termasuk Lesser Sunda Islands. Sedangkan Kalimantan adalah menyebut wilayah Indonesia.
- Ada yang bilang Java dan Borneo saja. Entah Borneo yang dimaksud di sini Indonesia ataukah wilayah Malaysia tidak jelas disebutkan.
- Tak ketinggalan ada juga yang menyebutkan sebarannya sebagai berikut: Malaysia (Borneo, Sabah, Mt. Kinabalu), Indonesia (Java, Mt. Karang, Mt. Andjasmoro, Bali, Flores), dan The Philippines
Di Jawa dapat ditemui di Gunung Merbabu dan Mt. Lawu (berdasar laporan ekspedisi/eksplorasi).
Di Malaysia, Paphiopedilum javanicum var. virens berada di Taman Nasional Gunung Kinabalu, Sabah, Malaysia
Yang pasti (hingga kini) status konservasi dalam CITES termasuk kategori Appendix I, artinya dilindungi secara ketat dari aktivitas perdagangan, apalagi skala internasional. Yang jelas pula, populasi anggrek kasut hijau khas pulau jawa yang kini sudah semakin jarang ditemukan di habitat alaminya. IUCN memasukkannya sebagai spesies yang terancam punah skala 3.1.
Melihat sebarannya yang telah relatif meluas, entahlah mengapa anggrek ini masih dinamakan Paphiopedilum javanicum? Rupanya dia lebih beruntung dibanding Acriopsis javanica yang namanya diprotes para ahli taksonomi modern yang kemudian menggantikannya dengan nama taksonomi yang baru, Acriopsis liliifolia. Alasannya karena sebarannya meluas hingga di luar Jawa bahkan negara (Indonesia).
Paphiopedilum atau Anggrek Kantong termasuk genus yang masih susah ditaklukkan di kebun penulis, termasuk Paphiopedilum javanicum ini. Entahlah mungkin memang harus butuh perawatan yang ekstra dan ribet karena kebunnya berada di dataran rendah yang panas.
Komentar
Posting Komentar