Pencurian Anggrek (4): Kasus Paphiopedilum ayubii
اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
‘Saya merasa dikhianati,’ keluh Ayub saat itu.
Kasus pencurian juga menimpa penganggrek senior Indonesia, Ayub Santoso Parnata.
Dan kasus seperti p Ayub banyak menimpa para ahli anggrek/senior Indonesia. Apalagi pendeskripsian anggrek-anggrek Indonesia dilakukan oleh ahli botani/taksonomi luar negeri. Alhamdulillah, para ahli takso muda Indonesia sekarang kian menunjukkan hidungnya (belum taringnya ya wkwkw).
Kronologisnya:
| dari OrchidRoots ya gambarnya |
Ayub menemukan bunga anggrek sepatu (Paphiopedilum) yang diduganya merupakan spesies baru atau belum dideskripsi dan masuk daftar taksonomi. Membuat catatan secara detail dan rinci ciri-ciri tanaman dan juga asal-muasalnya yang mana deskripsi tersebut dikirimkan ke The Australian Orchid Society beserta foto bunga dan beberapa bagian tanaman lainnya.
Tahun 1997, setelah setahun lamanya menanti, anggrek tersebut baru dipublikasikan dengan nama Paphiopedilum ayubii.
Seorang kolektor asal Jerman pun terpikat dan rela menempuh perjalanan panjang demi setangkai Paphiopedilum ayubii, kemudian membeli anakannya seharga US$20 atau setara Rp200.000/tanaman. Harga yang mahal saat itu. Apalagi ‘hanya’ untuk anakan.
Tanpa sepengetahuan p Ayub, Paphiopedilum ayubii ia ganti namanya atau didaftarkan dengan nama yang berbeda menjadi Paphiopedilum gigantifolia ke The Royal Horticultural Society di London, Inggris. Karena itulah pak Ayub berkata ‘Saya merasa dikhianati,’ seperti kalimat pembuka awal artikel ini.
Mungkin karena RHS lebih bonafid kali ya dibanding Australian OS, jadi p Ayub ‘kalah’ di sini. Dunia anggrek internasional pun mengakui nama baru ini dan menjadikan Paphiopedilum ayubii hanya sebagai sinonim.
Tetapi kelak ada deskripsi anggrek baru yang namanya
disematkan kepada beliau, yaitu Paphiopedilum ayubianum, (O.Gruss
& Roeth) Koop. & O.Gruss 2018.
Komentar
Posting Komentar