Tentang Cymbidium ensifolium (1): Asal Mula Anggrek di Kebun

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dulu semasa koleksi masih minim, apapun dibeli, ga peduli IDnya apa. Pokoknya merasa belum punya, ya ok aja pindahin ke kebun.

Dan …

Umumnya juga banyak yang mati. Innalillahi. Walaupun sekarang juga masih ada yang suka mati, tetapi alhamdulillah ga sedrastis dulu. Walaupun begitu PRnya juga masih banyak (sekali). Banyak (genus dan/atau spesies ) anggrek yang belum berhasil ditaklukkan. Salah satunya Cymbidium ensifolium yang telah menjadi arsip alias metong.

Tetapi gpp kan kalau dibahas barang sedikit paragraf? Yess!!!

Kalau gitu kita lanjut aja yaaa…

Anggrek ini saya peroleh dari Gunung Wilis. Sewaktu melihat dari stand ke stand yang ada di sana, banyak anggrek dijajakan. Asal pilih aja, g peduli IDnya apa, pokoknya belum merasa punya, ya udah dieksekusi aja. Selain koleksi juga masih seuprit, di sana juga g ada tag namanya. Maklum yang jualan juga penduduk dan hunter yang bertempat tinggal di sekitar lokasi aja. So, yah asal beli aja.

Nah dari beberapa yang dibeli, ternyata g perlu lama, berbungalah salah satunya. Dari bunganya ini ketahuan IDnya, Cymbidium ensifolium.

Tetapi setelah berbunga, metong hiks. Waktu itu memang g tahu kalau anggrek stress (asalnya memang dari dataran tinggi yang dicoba diadaptasikan ke dataran tinggi ke rendah yang cenderung panas) bisa berbunga. Dan saya membiarkannya atau tanpa memotongnya karena g tahu ilmunya. Akibatnya energi yang dibutuhkan sangat besar untuk proses adaptasi dan memasok makanan untuk bunga. Sedangkan energi yang diserap sangat tidak imbang dengan energi yang dikeluarkan. Maka g lama pun anggrek mati.

Mayoritas link anggrek menyatakan kalau anggrek ini bertipe anggrek terrestrial (geophyte), walaupun ada juga yang bilang anggrek epiphyte. Ada juga yang menginformasikan terkadang dijumpai secara litophyte (tumbuh di bebatuan dengan media/dilapisi lelumutan).

Etimologi

Nama Cymbidium datang dari bahasa Yunani “κυμβδιον”, dari kata “κμβη” (kymbe). Kalau artinya sih pot/cup, tetapi penjelasannya lebih berbentuk seperti (kapal) boat kecil, mengacu pada bentuk dari labellumnya. Ada juga yang mengartikan bibir bunganya yang diibaratkan perahu nelayan yang dilubangi dari batang pohon. Lainnya mengartikan rongga atau gua. Atau mungkin juga ada perspektif lainnya. Tetapi apapun tafsirannya semuanya mengacu pada bentuk lips dari anggrek ini.

Kemudian kata/nama tersebut dikombinasikan/disubstansi dengan kata ; “ensis” dari bahasa Latin yang artinya sword/pedang dan “folium” = leaf/daun, dengan referensi yang jelas.

Anggrek herba terestrial (geophyte) dengan tipe perbungaan/ inflorescence racemose yang muncul dari dasar pseudobulb, tegak dengan panjang/tinggi 20-40 cm yang membawa 3-10 kuntum bunga dengan warna variable, walaupun umumnya hijau kekuningan dengan spot merah pada labellum.

Spesies ini dilaporkan berada dalam daftar appendix II CITES (spesies yang perdagangannya diatur secara internasional) dengan sebaran yang luas meliputi: Sri Lanka, India, Burma, Cambodia, Thailand (Doi Sutep), Viet Nam (Cao Bang, Ha Giang, Hoa Binh, Kon Tum, Thanh Hoa, Lang Son, Ninh Thuan, Quang Binh, Son La), China (Auhui, Fujian, Guangdong, Guizhou, Hainan, Hubei, Hunan, Jiangxi, Sichuan, Zizang, Zizhiqu, Yunnan, Zhejiang), Hong Kong, Japan (Ryukyu Archipelago), Malaysia (Borneo, Mt. Kinabalu), Singapore, Indonesia (Sumatra, Java, Sulawesi, West Papua), Taiwan, Papua New Guenia, The Philippines (Luzon).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya