Didymoplexis pallens William Griffith, Tentang Phenology & Mycoheterotrophic

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah masih disuakan dengan salah satu Anggrek Hantu, Didymoplexis pallens William Griffith pada salah satu spot yang tersisa dari semula tiga spot.

Memprihatinkan sebenarnya nasibnya, tetapi ya apa daya? karena saya sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melestarikannya. Selain susah diadaptasikan, cara terjitu melestarikan anggrek ini adalah dengan cara membeli tanah/pekarangan bambu yang merupakan habitatnya. Nah ini pasti syulittt terlaksana.

Dari informasi yang saya baca dan juga pengalaman teman yang jago merawat anggrek, tingkat kegagalan mengadaptasikan anggrek ini mencapai 100%!

Apa mungkin ada cara yang lebih pas/jitu? Hmm itu mungkin saja, tetapi saya sendiri tidak tahu karena area tempat tumbuhnya selain agak jauh juga kebunnya milik orang lain.

Anggrek Hantu Tanah, semua jenis anggrek hantu yang hidup dalam tanah (terestrial) dulunya dimasukkan ke dalam anggrek saprofit, tetapi kemudian direvisi istilah dan kelompoknya ke dalam tumbuhan mycoheterotrophic, atau myco-heterotrophy, yakni tumbuhan yang memiliki hubungan simbiosis dengan jamur/fungi tertentu. Ada juga yang menyebutnya Mycotrophic (mikotrofik) yang arti harafiahnya ‘nutrisi jamur’, sama aja artinya dengan mycoheterotrophic. Perbedaan hanya ada penambahan kata hetero yang berasal dari kata heterotrof, yang berarti "makan yang lain", artinya mendapatkan nutrisi dari organisme lain.

Kemudian dari kelompok ini digolongkan lagi pada subkelompok holomikotrofik (holomycotrophic), yakni tumbuhan yang menyukai lingkungan gelap, kemunculan yang tak dapat diduga dan tidak memiliki daun sehingga tidak bisa melakukan fotosintesis dan bersimbiosis dengan fungi. Termasuk di dalamnya adalah genus Didymoplexis.

Umumnya kelompok ini mempunyai tingkat sensitifitas yang tinggi, rentan mati apabila dipindah tempat hidupnya karena membutuhkan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Ekologi yang spesifik itu adalah rumpun bambu tua dengan kondisi tanah basah, mengandung serasah daun bambu yang sebagian membusuk, dan berkanopi lebat.

Berbeda dengan populasi saudara-saudaranya di wilayah empat musim, di Indonesia, anggrek mycoheterotrophic populasinya terus menurun karena habitat khususnya kian tergerus dan rusak. Karena itu pentingnya upaya pelestarian yang kuat dan terus-menerus supaya mereka tidak punah.

FYI:

  • Nama Umum: Anggrek Lonceng Kristal (translet nama internasionalnya, Crystal Bell Orchid), Anggrek Hantu (sebutan yang terlalu luas, karena itu harus diberikan nama yang lebih khusus).
  • Sebaran: Asia Tenggara, New Guinea, Australia, Kepulauan Pasifik
  • Habitat: hutan hujan, hutan berumput, hutan bambu
  • Deskriptor: William Griffith, 1844

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya