Epilithic atau Saxicolous, Apa Itu?

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak seperti di kebun kita yang kita tempelkan pada pohon atau media kayu atau papan pakis, Anggrek Larat yang dikenal di Indonesia dengan nama binomial/taksonomi Dendrobium bigibbum var. schroederianum (Rchb.f. ex W.Watson) Peter B.Adams 2016 di habitat aslinya lebih cenderung tumbuh pada bebatuan. Istilahnya adalah litophyte (orchid).

Nah ada satu link yang menyebut litophyte ini dengan istilah lain, yakni epilithic atau saxicolous.

Apa itu?

Definisinya lebih kurang sama dengan pengertian litophyte, yakni tumbuhan yang tumbuh langsung di permukaan batuan. Jadi perbedaannya pada spot tumbuhnya. Jika litofit bisa berada diatas atau disela-sela bebatuan, maka epilitik murni tumbuh pada permukaan bebatuan/batu. Pada kategori ini tidak termasuk spesies akuatik (bermediakan air), epifit (kulit pohon), atau kortikol (pada semak hidup).

Banyak ahli yang berpegang pada pembagian definisi ini karena tempat tumbuhnya yang sangat jelas.

Foto diambil dari link Phals.net

Meski anggrek termasuk salah satu tumbuhan udara (air plants) yang artinya tumbuhan yang tidak (begitu) memerlukan media, tetapi pada rilnya, anggrek tidak serta merta dapat hidup pada bebatuan tanpa bantuan dengan organisme lain. Tentu yang kita bicarakan di sini adalah anggrek epifit dan monopodial ya, bukan terestrial.

Meski dalam penglihatan kita anggrek itu hidup pada bebatuan, sejatinya anggrek bersimbiosis dengan fungi dan lumut. Dan ada juga yang berkoloni dengan rerumputan.

Tidak ada organisme yang dapat hidup pada permukaan (be)batu(an) kecuali lumut. Karakter lumut yang dapat menyimpan air (dan menjaga kelembaban) cocok untuk anggrek. Dengan adanya koloni lumut pada bebatuan dapat merangsang/mengundang kehadiran fungi mikoriza. Satu jenis fungi yang menjadi ‘perawat’ dari biji-biji anggrek yang tidak mampu berkecambah sendiri dan tergantung pada keberadaan fungi untuk memasok nutrisi baginya.

Tentang ini kita dapat melakukan eksperimen ya. G usah pake batu, tetapi pake batu bata yang memiliki permukaan yang tidak rata dan cenderung berlubang-lubang yang mampu menampung air. Hasilnya anggrek tetap sulit berprogress bila tanpa adanya lumut. Permukaan batu yang licin meski banyak juga yang mempunyai banyak cekungan akan membuat air menggelincir dan cepat menguap. Kondisi yang tidak cocok bagi anggrek. Karena itulah keberadaan lumut yang mampu menyerap air dan menjaga kelembaban serta sebagai media berkembangbiaknya mikoriza mutlak diperlukan bagi anggrek.

Selain lumut, rerumputan dan juga banyak spesies tumbuhan liar mampu hidup dalam retakan-retakan atau sela-sela bebatuan.

Contoh lainnya:

Phalaenopsis (Doritis) pulcherrima

Vandopsis spp.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya