Kawasan Ekologi Malesia (1): Pembagian Biogreografis

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Berbeda dengan anggrek hibrid yang hanya ada nama hibrid, breeder dan/atau originator serta nama induk, anggrek spesies harus dideskripsi dan dipublikasikan dengan informasi yang lengkap, mulai dari nama binomial/taksanya, morfologi, hingga sumber referensinya.

Salah satu informasi pendukung yang akan kita bahas di sini adalah tentang kawasan sebaran atau daerah asal anggrek yang berada di zona Asia Tenggara.

Distribusi suatu anggrek menampilkan nama negara, pulau, daerah, kota, kawasan, region, dan lain-lain.  Tetapi banyak kali, penyebutan nama ‘native to’ atau sebaran/distribusi anggrek ini membingungkan kita. Kita ambil contoh Borneo. Pulau besar ini milik 3 negara: Malaysia, Indonesia (disebut Kalimantan), dan Brunei Darussalam. Nah pertanyaannya kalau hanya disebutkan Borneo saja, anggrek A itu sebenarnya plasma nutfah miliknya siapa? Masih banyak lho kasus-kasus lainnya, nama area yang membuat kita bingung.

Ahli biogeografis/ekologi/floristik membagi dunia dengan beberapa zona supaya lebih mudah mempelajari kekayaan alamnya. Ada zona Asia, Australia, Eropa, dan lain-lain.

Zona-zona tersebut juga dibagi-bagi lagi ke dalam sub zona yang mempunyai persamaan karakter flora-faunanya, hingga sampai zona terkecil sesuai kebutuhan.

Nah pembagian di atas kertas (administratif) atau de-facto  yang dikroscek dengan pembagian secara geografis atau de-jure sering terjadi singgungan dan bentrokan di sana-sini karena terdapat perbedaan pandangan atau pendapat dari para ahli itu sendiri. Seperti contoh Borneo tadi.

Perubahan de-facto ini memang tidak bisa dihindarkan. Baik yang dilakukan oleh pemerintah, ahli geografis, dan ahli lain yang mempunyai kemampuan untuk melakukan revisi perubahan suatu nama atau wilayah. Sementara di sisi lain factor de-jure (geografis) lebih stabil dari perubahan. Karena itu bila dilakukan cross-ceck bisa terdapat perbedaan di sana-sini. Misalnya munculnya negara Timor-Leste di kawasan Lesser Sunda Islands. Secara administratif  Timor-Leste adalah suatu negara, tetapi secara biogeografis berada di kawasan Lesser Sunda Islands. Akan negara ‘baru’ ini para ahli taksonomi/botani jarang menyebut Timor-Leste karena dianggap sebagai LSI.

Banyak lagi contoh lainnya. Yuk kita bongkar satu demi satu supaya kita paham. So, terus spill yaaaa!

Nah, pertama yang akan kita bahas adalah suatu kawasan yang berada di Asia Tenggara, bernama Malesia, dimana Indonesia berada dalam zona floristik Malesia ini.

Malesia, dalam biogeografi, adalah sebutan bagi wilayah yang membentang dalam zona ekologi Indomalaya (Peninsula Malay) hingga Australasia (Kepulauan Bismarck dan Selat Torres yang membatasi dengan wilayah Australia). Dan nyatanya kawasan ini berkali-kali mengalami perubahan, baik de facto maupun de-jure. Yukss lanjuttt!!!

Perlu diperhatikan: nama wilayah dalam biogeografi ini yang dipakai para ahli botani dunia, meskipun di atas kertas atau secara administratif wilayah-wilayah tersebut terus mengalami perubahan, baik dengan hadirnya negara baru atau provinsi baru (di Indonesia) atau sebab lainnya. Artinya pembagian secara geografis ini akan dipakai selamanya, kecuali ada perevisian. Bahkan saat ada perubahan pun belum tentu semua ahli bersepakat. Jadi perbedaan dan kebingungan itu akan terus akan terus ada. Jadi kita cukup bersikap fleksibel saja. Ok!?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya