Mycaranthes tjadasmalangensis (J.J.Sm.) Rauschert

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Seperti pada postingan yang telah lewat, disinggung bahwa Mycaranthes tanpa ada debat pernah menjadi bagian dari genus Eria, sebagai section. Perevisian atau pendeskripsian tersebut berpengaruh pada spesies-spesies Mycaranthes, termasuk anggrek kita kali ini, Mycaranthes tjadasmalangensis (J.J.Sm.) Rauschert yang dipublikasikan tahun 1983, yang mana sebelumnya diidentifikasi sebagai Eria tjadasmalangensis, 1918. 

Melihat dari penulisan nama authornya (J.J.Sm.) Rauschert, menunjukkan bahwa J.J. Smith merevisi genus Mycaranthes ke dalam seksi Eria, sekaligus mendeskripsikan spesies baru pada waktu itu, Eria tjadasmalangensis, yang mana pada kemudian tahun, Rauschert mengembalikan Mycaranthes ke kedudukan semula, yakni sebagai genus.

Mycaranthes tjadasmalangensis merupakan anggrek endemik Indonesia karena hanya ditemukan di Sumatra dan Jawa.

Taxonomy

First Published

:

Feddes Repert. 94: 456 (1983)

Genus

:

Mycaranthes

Subtribe

:

Eriinae

(Podochilinae Benth. & Hook.f., Gen. Pl. 3 (1883) 463)

Tribe

:

Podochileae Pfitzer (1887)

Entw. Nat. Anordn. Orch., 101 (1887)

Subfamily

:

Epidendroideae Kostel.

Allgemeine Medizinisch-Pharmazeutische Flora 1: 233. (1831)

Family

:

Orchidaceae Juss.

Genera Plantarum 64–65. (1789)

Synonym

:

Eria tjadasmalangensis J.J.Sm., Bull. Jard. Bot. Buitenzorg, sér. 2, 26: 43 (1918)

Native to

:

Jawa, Sumatera

Elevasi

:

1600 m (5249 ft), dari IOSPE 1100 – 1520 m dpl

 

Ukuran bunganya sekitar 6 mm, tetapi admin pernah mengukurnya mencapai 1 cm untuk tinggi bunga dan 1 cm untuk lebar bentangan petal.

Sosoknya mirip Vanda, bahkan hampir serupa karena itu sering dikira sebagai anggrek Vanda dan apabila tidak dapat membedakan bisa terkecoh tipuan tukang kembang karena menjual anggrek ini dan diklaim sebagai anggrek Vanda.

Admin g bisa berbicara banyak karena sewaktu memiliki anggrek ini tidak banyak pengetahuan tentangnya, apalagi memilikinya pun hanya sesaat karena sesudah beberapa minggu dia mati akibat stress perbedaan agroklimat antara tempat tinggal aslinya (hutan) yang berada di dataran tinggai dengan kebun admin yang berada di dataran rendah yang panas.

Suka sedih juga sih ya kalau merawat anggrek spesies lalu mati karena berniat untuk merawatnya secara ex-situ karena habitat mereka sudah mulai rusak berat.

Lagi seperti mayoritas anggrek Indonesia lainnya, tidak atau belum ada nama resmi Indonesia atau daerahnya. Hmm sayang ya anggrek Indonesia banget tetapi g punya nama Indonesia atau lokalnya.

Sedangkan nama tjadasmalang merupakan penulisan ejaan lama dari kata Cadasmalang, nama suatu daerah di Jawa Tengah/Jawa Barat?

  • Sosoknya mirip Vanda, tetapi dengan daun yang berbeda, lebih tipis dan lebih tampak seludang daunnya dibandingkan Vanda. Sekilas kita akan mengiranya sebagai anggrek Vanda. Begitu juga apabila dilihat dari kejauhan. Karena itulah anggrek ini sering buat nipu dan diaku sebagai Vanda. Harganya tentu berbeda jauh karena anggrek ini hampir tidak laku bila dijual.
  • Bunganya kecil, lebar/diameter ±  1 cm, tinggi juga 1 cm lebih sedikit. Aroma wanginya seperti Kamboja, namun sangat lembut sekali dan hanya tercium di sekitar kuntum saja.
  • Walau mungkin menurut kita wanginya tidak tajam, namun bagi para serangga polinatornya, aroma ini dapat dideteksi dari jarak yang cukup jauh.
  • Masa mekarnya ± 5 hari. Namun karena dalam satu tangkai terdapat ratusan kuntum yang mekarnya bergantian, kita dapat menikmati pesonanya hingga 1 – 2 bulan, mungkin juga lebih.
  • Sepal lateral (sepal samping) sangat lebar bagaikan sayap yang sedang mengembang lebar-lebar. Sedangkan labellumnya sangat ndower. Di sinilah terdapat pseudopollen, yang merupakan ciri khas pembeda dengan genus Eria umumnya.
  • Daunnya tampak lunak dan berair. Permukaan seperti dilapisi lilin/waxy.

Tak banyak informasi yang dapat kita gali lebih dalam lagi mengenai anggrek ini. Kemungkinan disebabkan:

  • Diliputi kontroversi hingga kini.
  • Bukan anggrek terkenal, belum bernilai ekonomis dan hanya bermanfaat dalam bidang sains saja.
  • Bunganya yang kecil jarang dilirik oleh penikmat anggrek.
  • Terbatas sebarannya yang hanya ada di Sumatra dan Jawa. Itu pun mungkin hanya di wilayah tertentu saja terdapat anggrek ini.

Walaupun begitu kalau menjumpai anggrek ini, jangan ragu-ragu untuk mengkoleksinya/membelinya. Yeah itung-itung ikut melestarikannya secara ex-situ.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya