A - Z tentang Phorophyte: Apa itu Host Tree?

 

اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Meski mungkin dirasa tidak terlalu penting, namun keberadaan subtrat sebagai tempat melekatnya anggrek epifit tetap dibutuhkan juga. Apalagi apabila substrat tersebut mampu menyediakan berbagai faktor yang dibutuhkan oleh anggrek, maka keberadaan substrat menjadi kian berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anggrek.

Pada habitat liar, pohon merupakan pilihan yang paling logis, meskipun ada juga anggrek yang mampu hidup pada bebatuan, tanah, dan semi akuatik. Tetapi karena kita bicaranya di sini adalah tentang epifit, maka pohonlah yang menjadi bahasan kita. Itulah yang disebut pohon inang, atau tumbuhan induk semang, atau host trees, istilah botaninya adalah phorophytes. Sepertinya memang pernah disinggung dikit ya? Tetapi gpp kan kalau diulang lagi, siapa tahu ada info yang terlewat.

Phoro berarti pembawa dan phyte yang berarti tumbuhan. Sederhananya phorophytes atau pohon inang adalah tumbuhan tempat (tumbuhan) epifit tumbuh. Nah tumbuhan yang tumbuh pada (pohon/tumbuhan) phorophytic itu disebut (tumbuhan) epifit. Misalnya anggrek, paku-pakis, dan lain-lain.

Kerjasama atau interaksi di antara keduanya tidak mendatangkan manfaat atau kerugian pada pohon inang, tetapi tumbuhan epifit mendapatkan manfaat. Disebut simbiosis komensalistik. Tumbuhan epifit seperti ini dimasukkan ke dalam golongan epifit obligat, yang mana sifatnya bukan parasit. Kita abaikan benalu yang memang dalam kerjasamanya salah satu merugi (pohon).

 

Spesifisitas Phorophyte

Phorophytes yang berbeda memberikan kondisi yang berbeda pada tanaman yang tumbuh di permukaannya. Faktor tersebut misalnya pH kulit kayu, derajat kerontokan kulit kayu, keberadaan getah susu serta kerapatan dan ukuran lentisel kulit kayu berpengaruh terhadap terjadinya epifit.

Beberapa anggrek epifit cenderung tumbuh pada phorophytes dengan kulit kayu yang kasar.

 

Apa korelasi anggrek dengan pohon inang?

Ada yang mengatakan tidak ada korelasi. Artinya anggrek tidak memerlukan pohon tertentu untuk bisa hidup dan survive. Ya pendapat ini benar apabila anggrek telah dewasa, dalam artian kita bisa memindahkannya ke pohon lain yang berbeda karakter, anggrek akan tetap hidup. Namun pendapat ini sepenuhnya juga tidaklah benar karena pada kenyataannya ada pohon dengan karakter tertentu yang banyak ditempeli anggrek. Sedangkan di sisi lain ada pohon yang mempunyai karakter berlawanan sangat jarang bahkan nihil ada anggrek yang menempel.

Tentu saja dalam ‘memilih’ pohon inang anggrek juga ‘mempertimbangkan’ banyak faktor seperti keberadaan nutrisi, terjaganya kelembaban, kebutuhan sinar, dan lainnya. Dan karena bahasannya tentang phorophyte, maka karakteristik dari suatu pohon inang sangat penting. Karakter-karakter ini meliputi diameter batang, tinggi pohon, lebar kanopi, dan karakter kulit yang berpengaruh terhadap kehadiran anggrek. Setiap pohon dengan karakteristik tertentu disukai atau tidak disukai oleh anggrek tertentu.

Secara umum pohon inang favorit adalah yang memiliki kulit pohon tua, stabil (tidak mudah mengelupas), keras, kasar dan tidak bergetah, sehingga akar bisa melekat kuat untuk menopang anggrek pada pohon inang. Semakin sedikit kriteria yang bisa dipenuhi, semakin sedikit pula anggrek yang menempel di sana. Begitu pula sebaliknya. Namun pada kenyataannya tidaklah sesederhana seperti itu. Tetapi faktor dan syarat di atas merupakan standar umum. Pohon inang favorit sekalipun tidak mampu menampung semua anggrek yang ada. Atau dengan kata lain karakter yang dimilikinya belum tentu cocok dengan anggrek tertentu.

Di sisi lain, banyak anggrek epifit yang mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi dengan banyak pohon inang yang berbeda, atau tidak memilih inang khusus untuk pertumbuhannya. Asalkan pohon inang mampu menyediakan semua kriteria yang disyaratkan, maka anggrek itu akan menempel di sana. Misalnya Coelogyne speciosa yang mempunyai rentang pohon inang hingga 17 pohon inang! Eria iridifolia 13 pohon inang. Cerastostylis sp dan Eria multilora ditemukan pada 11 pohon inang.

Tidak sedikit pula jenis anggrek epifit yang hanya ditemukan pada pohon inang tertentu. Ada Appendicula cornuta yang hanya ditemukan pada pohon mati, Adenoncos virens yang hanya ditemukan pada S. walichii, Ceratostylis graminea yang hanya ditemukan pada S. laxiflorum, Liparis elliptica yang hanya ditemukan pada S. aromatica, Oberonia similis yang hanya ditemukan pada inang S. blumiana, dan Oberonia lotsyana yang hanya ditemukan pada F. variegata. Menurut sumber penelitian yang lain, anggrek Oberonia similis dan Oberonia lotsyana juga ditemukan pada pohon inang S. walichii, Syzigium, dan Agathis. Jadi memang terkadang terjadi ‘bentrokan’ data/informasi antar sumber penelitian yang satu dengan yang lain. Karena itu temans perlu melakukan cek-ricek secara teliti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keiki, Apa Itu?

Status Sebaran Endemik dan Non-Endemik, Apa Standarnya?

Subtribe Eriinae: Genus Aeridostachya