A - Z tentang Phorophyte: Pohon Inang Favorit, Simpulan, dan Referensi Eksplorasi Anggrek
اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pembahasan Karakter Pohon Inang II terdiri atas keunggulan pohon inang favorit, phorophyte hutan homogen, kesimpulan, dan link referensi eksplorasi anggrek pada habitat liarnya. Yuk kita spill!Kelebihan Pohon Inang Favorit
Dari hasil berbagai eksplorasi, diversifikasi, studi lapangan, dan/atau penelitian, ada 4 atau 5 jenis pohon inang yang merupakan favorit berbagai macam anggrek, yakni:
- Tectona grandis (Jati)
- Clausena indica (Jeruk-jerukan)
- Mangifera indica (Mangga)
- Fagaceae sp. (Pasang-pasangan)
- Lagerstroemia speciosa (Bungur)
Apa keunggulan dari pohon inang-pohon inang ini sehingga disukai berbagai macam anggrek?
Kanopi luas. Itu artinya kelembaban sebagai salah satu faktor agroklimat anggrek akan tetap terjaga. Tetapi kebutuhan akan sinar matahari masih terjaga karena sinar masih bisa menerobos karena susunan daun yang jarang.
Schima walichii dan Ficus variegata merupakan pohon berukuran besar yang paling banyak dijumpai jenis anggrek epifit dalam satu pohon. Keduanya mempunyai perawakan yang besar, tinggi, kondisi kulit kasar, dan tajuk lebar.
Oreocnide rubescens, pohon dengan perawakan kecil berdiameter 20 cm dengan tinggi 8 m dijumpai cukup banyak anggrek epifit karena mempunyai permukaan kasar, lembab, dan banyak ditumbuhi lumut.
Cyathea sp (paku tiang) merupakan tumbuhan tingkat bawah yang menyerupai pohon tetapi memiliki kulit berongga, teksturnya kasar dan kelembaban tinggi karena air mudah tertahan pada batang pohon, sangat cocok untuk pertumbuhan anggrek epifit (Murtiningsih et al., 2016).
Phorophyte Hutan Homogen
Berbicara tentang phorophyte, tidak hanya berbicara tentang pohon-pohon yang berada dalam hutan alami (heterogen), tetapi juga hutan homogen yang mana salah satunya adalah perkebunan yang memang secara sengaja dibudidayakan. Kawasan seperti ini tidak sengaja (karena memang tidak dikhususkan untuk tumbuhan lain selain tumbuhan/tanaman utama) lama-kelamaan bisa ditempeli anggrek dari biji-biji anggrek yang tersebar dan kemudian melekat pada substrat/kulit pohon pada hutan homogen/perkebunan.
Ada:
- Kawasan hutan homogen Pinus (Pinus merkusii)
- Damar (Agathis borneensis)
- Rasamala (Althigiaexcelsa)
- Kopi
- Teh
- Jati
Kesimpulan
- Anggrek mempunyai syarat-syarat tertentu terhadap pohon inangnya.
- Anggrek mempunyai syarat-syarat tertentu terhadap habitat alamiahnya.
- Anggrek mempunyai syarat-syarat tertentu terhadap kondisi lingkungan (agroklimat).
Bagi yang sering ke hutan akan paham hal ini karena memang tidak semua pohon ditempeli anggrek, tidak semua spot terdapat anggrek, dan lain-lain. Awalnya kulit pohon itu haruslah cocok dengan bijibiji anggrek yang akan berkecambah di sana karena anggrek bisa tersebar luas distribusinya karena biji-biji anggrek yang memencar ditiup angin atau terbawa hewan.
Yang tidak boleh kita lupakan, pada habitat alamiahnya, anggrek tumbuh bersama-sama dengan spesies lain, baik dari kalangan anggrek itu sendiri maupun tumbuh-tumbuhan epifit lainnya seperti paku-pakis, hoya, dischidia, dan lain-lain, maupun flora lainnya yang mana masing-masing mengembangkan sistem simbiosis tertentu yang bisa menguntungkan atau pun merugikan satu sama lain.
Anggrek yang memilih secara ketat pohon inangnya lebih rawan langka bahkan punah apabila pohon inangnya terkena degradasi, walaupun sejatinya setiap anggrek mampu bertahan atau justru beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungannya.
Sumber Artikel
PUSPITANINGTYAS – Anggrek dan Inangnya di Taman Nasional Meru Betiri – Jawa Timur
BIODIVERSITAS Vol. 8, No. 3, Juli 2007, hal. 210-214 214 18 33 100 100 200 PUSPITANINGTYAS – Anggrek dan Inangnya di Taman Nasional Meru Betiri – Jawa Timur
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON Volume 1, Nomor 3, Juni 2015 ISSN: 2407-8050 Halaman: 449-454 DOI: 10.13057/psnmbi/m010312
Keragaman jenis dan sebaran anggrek alam di Taman Wisata Alam Cani Sirenreng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Diversity and distribution of orchids in Cani Sirenreng Nature Park, Bone District, South Sulawesi) - BAYU WISNU BROTO, ARIEF ADHI PRATAMA, @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 6 (1) : 62 – 70 (2020)
Prapitasari & Kurniawan (2021). Jurnal Biologi Tropis, 21 (3): 706 – 719 DOI: http://dx.doi.org/10.29303/jbt.v21i3.2857
Komentar
Posting Komentar