Gastrodia bambu (Destario & Sujatna), Anggrek Hantu Terestrial
اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mereka (juga) disebut Anggrek Hantu. Ada juga yang bilang Anggrek Pocong. Anggrek-anggrek holomikotropik yang sifatnya yang misterius, tidak memiliki daun, tidak bisa melakukan fotosintesis karena tidak memiliki klorofil dan organ fotosintetik, menyukai lingkungan gelap dengan kemunculan yang tidak terduga. Hanya pada fase berbunga saja dapat terlihat. Selebihnya, tersembunyi dalam tanah dengan bentuk rhizoma.
Mereka sulit untuk diadaptasi (didomestikasi) karena memiliki persyaratan habitat dengan kondisi tertentu. Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan terhadap organisme lain (bambu) dan melakukan simbiosis dengan jamur mikroskopik mikorhiza yang memang memiliki peranan sangat penting dalam proses metabolisme pertumbuhan anggrek-anggrek hantu.
Gastrodia bambu
Genus ini sedikit berbeda dengan kelompok anggrek holomikotropik lainnya. Selain warnanya yang gelap (coklat gelap) juga memiliki aroma seperti ikan busuk. Fungsinya sebagai pemikat polinator.
Karena begitu spesifik, tidak semua rumpun bambu tua terdapat anggrek ini. Tidak ada jaminan saat ini mekar, tahun berikutnya dipastikan mekar. Karenanya memang butuh keberuntungan besar untuk dapat berjumpa dengan anggrek ini di habitat alaminya.
Habitat
Rumpun bambu tua dengan kondisi khusus. Artinya tidak semua rumpun bambu tua terdapat anggrek ini.
Dari sinilah nama Gastrodia bambu diambil, mengacu pada nama Indonesia untuk tumbuhan bambu, habitat dimana anggrek ini tumbuh.
Distribusi
- India (new record), Darjeeling wilayah Kalimpong, Bengal Barat (East Himalaya) pada ketinggian sekitar 1.120 mdpl. Dipublikasikan dalam Journal of Japanese Botany (Desember 2023).
- Vietnam
- Jawa (Indonesia): Gunung Merapi, Gunung Gede Pangrango, Tahura Raden Soerjo Jawa Timur
Estimasi Distribusi
Diperkirakan memiliki daya jelajah ekologis yang luas, membentang dari kepulauan Indonesia, daratan Asia Tenggara (Vietnam), hingga ke kaki pegunungan Himalaya di India.
Kronologis Publikasi
- 2016 – ditemukan pertama kali di Gunung Merapi, Yogyakarta pada ketinggian 800 mdpl.
- 28 Januari 2017 – ditemukan (juga) di Gunung Gede Pangrango, Bodogol, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, ketinggian 800 mdpl. dan Yogyakarta – 800-900 meter di atas permukaan laut
- 2017 - Destario Metusala dan Jatna Supriatna membuat deskripsi anggrek ini dengan nama taksa Gastrodia bambu yang diterbitkan dalam Phytotaxa 317: 212 (2017) “Gastrodia bambu [Orchidaceae: Epidendroideae], A New Species from Java, Indonesia [Agustus 2017]”. Sinonimnya: Demorchis bambu (Metusala) M.A.Clem. & D.L.Jones; Demorchis khangii (Aver.) M.A.Clem. & D.L.Jones ; Gastrodia khangii Aver.
- 2020 – ternyata ditemukan juga di North Vietnam, sehingga status berubah bukan lagi endemik. Awalnya di Vietnam diidentifikasi sebagai Gastrodia khangii yang ternyata identik dengan Gastrodia bambu. Dipublikasikan pada Jurnal Phytotaxa pada 2020.
- 2023 - ditemukan juga di East Himalaya, India
| struktur lidah sebagai pembeda utama |
Similar Species
- Gastrodia khangii - Vietnam
- Gastrodia abscondita J.J.Sm.
- Gastrodia crispa J.J.Sm.
Ancaman Kelestarian
- Penebangan bambu – ya g bisa dilarang juga karena penduduk kan menebang bambunya sendiri. Oleh karena itu pembelian lahan penduduk yang ada anggrek ini dianggap sebagai jalan keluar terbaik.
- Awan panas – karena banyak yang berada di kawasan gunung aktif
- Sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, membutuhkan kondisi tanah dan kelembapan yang sangat spesifik yang hanya disediakan oleh ekosistem rumpun bambu tua.
Warning
Banyak link yang keliru memuat foto spesimen. Gastrodia lain dikira sebagai Gastrodia bambu. Jadi hati-hati yaaa!!!
Komentar
Posting Komentar