Lanjutan tentang Litofit (Part 2)
اَلسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَةُاﷲِ وَ بَرَكَاتُه
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh
Duh ternyata masih banyak informasi dari litofit yang terlewatkan pada tulisan kemarin (baca di sini).
Masih ada istilah lain untuk menyebut lithophyte, yakni rupestris, rupicolous, atau saxicolous. Dalam bahasa Inggris disebut ‘on rock’, merujuk kepada tumbuhan yang hidup didalam atau di permukaan batuan.
Terbagi dalam dua golongan, epilithic/epipetric, dan endolithic atau epilitik dan endolitik.
Litofit epilitik tumbuh pada permukaan bebatuan, contohnya lumut, alga, dan tumbuhan sederhana lainnya, misalnya fungi. Tidak ada anggrek yang mampu hidup untuk kategori ini bila tanpa ada kerjasama dengan organisme-organisme tersebut.
Sementara litofit endolitik tumbuh di dalam retakan-retakan/sela-sela bebatuan. Dikenal juga dengan istilah kasmofit. Spesies anggrek litofit berada dalam kategori ini.
Litofit dapat juga dikelompokkan sebagai obligat dan fakultatif.
Litofit obligat hanya tumbuh di bebatuan, sementara litofit fakultatif sebagian tumbuh di bebatuan sementara sebagian lainnya tumbuh di substrat yang berbeda.
Terhadap pengertian kedua kelompok term ini, saya memahaminya sebagai berikut:
Epilitik dan endolitik, basic-nya berhabitat di bebatuan. Begitu juga dengan obligat. Contohnya: Paphiopedilum (slipper orchids), Anggrek Larat, Catasetum, Oncidium, dan lain-lain.
Sedangkan fakultatif, selain tumbuh pada bebatuan juga tumbuh pada substrat lain secara bersamaan. Beberapa contoh anggrek bisa disebut di bawah ini:
Mengapa anggrek tidak bisa disebut litofit murni?
Karena dalam lingkaran kehidupannya, anggrek (terutama biji) sangat tergantung pada organisme lain, yakni fungi mycoriza sebagai penyedia nutrisi. Meski sudah dewasa pun anggrek litofit tetap bergantung pada organisme lainnya, seperti lumut.
Kita tahu karakter bebatuan adalah gampang mengalirkan air, tidak mampu mengikat air, air cepat menguap dan sebagainya. Situasi yang tidak kondusif bagi anggrek karena salah satu faktor agroklimatnya adalah terjaganya kelembaban.
Lumut dan beberapa organisme lain mampu menahan air dalam penguapan sehingga kelembaban yang dibutuhkan anggrek terpenuhi.
Selain itu bebatuan juga miskin nutrisi. Lumut dan organisme bebatuan mampu berperan sebagai dekomposer (mengakumulasi bahan organik) yang dibutuhkan anggrek.
Meskipun para ahli tidak tahu simbiosis apa yang tepat untuk anggrek dan organisme-organisme bebatuan, tetapi yang jelas anggrek bersifat setengah parasit di sini karena kehidupannya benar-benar tergantung pada keberadaan makhluk hidup lainnya. Dan anggrek tidak akan benar-benar mampu tumbuh pada permukaan batu, kecuali pada sela-sela atau retakan-retakan bebatuan.
Ringkasnya: anggrek litofit adalah anggrek yang hidup pada jamur yang hinggap pada bebatuan.
Bagaimana kebutuhan nutrisi anggrek litofit?
Sudah disebutkan karakter bebatuan yang miskin air dan hara. Maka untuk bertahan hidup anggrek harus bersimbiosis dengan organisme lainnya, terutama fungi. Yeah, walaupun anggrek termasuk tumbuhan udara yang artinya bisa hidup tanpa media, tetapi agar kondusif, peran organisme lain sangat diperlukan.
Pada bebatuan, anggrek hanya mampu tumbuh pada celah-celah atau retakan-retakan yang mana pada spot-spot seperti itu terdapat cadangan air (air hujan), kelembaban terjaga dan tersedianya bahan organik yang telah terakumulasi (zat-zat hara). Dan lagi-lagi terus dikatakan anggrek harus bergantung keberadaan fungi, terutama arbuscular mycorrhizal fungi dan dark septate endophyte fungi.
Sedangkan kebutuhan akan nitrogen, diikat dari udara/atmosfer dalam bentuk gas amonia (NH3). Litofit mengonsumsi amonia di atmosfer melalui gradien konsentrasi yang memungkinkan senyawa tersebut melintasi apoplast tanaman. Setelah bebas di apoplas, gas amonia diserap ke dalam sel metabolik oleh enzim glutamin sintetase.
| by Prabu Wanayasa Fb |
Komentar
Posting Komentar